Kegagalan akuntansi kapitalis mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan telah menstimuli munculnya pemikiran mengenai akuntansi holistic yang berupaya mengintegrasikan seluruh realitas, subjek (jati diri), objek, cakupan wilayah, dimensi (materi dan non materi, dunia dan akhirat, subjektif dan objektif) berdasarkan nilai-nilai Ilahiah (ketuhanan) untuk mencapai kemasalahatan dan kebahagiaan masyarakat di dunia dan di akhirat.
Dalam rangka mengapresiasi dan mengkaji secara mendalam gagasan mengenai akuntansi holistik, Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang menggagas penyelenggaraan Webinar Asosiasi Program Studi Akuntansi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (APSA PTM) dengan topic “Akuntansi Holistik: Filosofi, Konsep, dan Implementasi”. Acara webinar APSA PTM tersebut diselenggarakan pada Sabtu, 4 Juli 2020 melalui platform zoom.
Pemateri dalam kegiatan webinar ini adalah Dr. Ahim Abdurahim, SE., M.Si., Ak., SAS., CA., ACPA (Dosen Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Dr. Masiyah Kholmi, MM., Ak., CA (Dosen Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang), dan Dr. Tumirin, SE., M.Si (Dosen Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Gresik), sedangkan yang bertindak sebagai moderator yaitu Achmad Syaiful Hidayat Anwar, SE., M.Sc., Ak., (Dosen Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang). Acara webinar APSA PTM tersebut diikuti sebanyak 115 peserta dari PTM dan perguruan tinggi lain baik negeri maupun swasta.
Dalam presentasinya, Dr. Ahim Abdurahim, SE., M.Si., Ak., SAS., CA., ACPA memaparkan tentang akuntansi holistic dari aspek filsafat. “Secara filsafat terdapat empat hal terkait dengan akuntansi holistic yaitu mencintai kebenaran, berpikir secara mendasar, memahami hingga dibalik konsep, dan mencintai kebijaksanaan “,ungkap Ahim dalam penjelasannya.
Mencintai kebenaran diwujudkan dengan upaya untuk mencari kebenaran, berpikir secara mendasar dilakukan dengan memahami perspektif suatu konsep, memahami hingga dibalik konsep dapat dicapai dengan berpikir secara paragdimatis, dan mencintai kebijaksanaan dapat dicapai dengan memilih kemaslahatan yang hakiki yaitu kemaslahatan di dunia dan akhirat.
Dengan kata lain, akuntansi holistic tidak memisahkan satu bagian dengan bagian lain karena semuanya saling berkaitan sebagaimana tercermin pada metode double entry. Lebih lanjut, Dr. Masiyah Kholmi, MM., Ak., CA mengawali penjelasan akuntansi holistic dari perkembangan arah akuntanisi dunia, mulai dari akuntansi tradisional, modern, dan sustainability.
Menurut Masiyah, akuntansi holistic merupakan ilmu akuntansi yang berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan dengan keseimbangan dan keutuhan, yang kemudian dikenal dengan konsep akuntansi syariah. Konsep akuntansi syariah berlandaskan pada tiga prinsip yaitu prinsip akuntabilitas (akuntabilitas kepada Allah, manusia, dan alam), keadilan, dan kebenaran.
Dr. Tumirin, SE., M.Si memulai pembahasan mengenai akuntansi holistic dari aspek religiusitas akuntansi secara konsep, teori, dan metode. Dalam paparannya, Tumirin menjelaskan bahwa religiusitas akuntansi berupaya meluruskan focus akuntansi modern dengan menempatkan harta pada konsep yang benar berdasarkan Al-Qur’an (QS. Al-Lahab 111:1-5, Ali-Imran 3:92,) dan Sunnah. Hal tersebut akan memuncul teori akuntansi Islami yang berlandaskan pada Shari’ah Enterprise Theory/SET (Triyuwono 2001) dan Religious Charity Social Enterpreneurship Theory/RESITRY (Tumirin 2017, 2018).
SET merupakan metafora amanah dan realitas organisasi yang dimetaforakan dengan zakat sedangkan RESITRY berlandaskan pada harta waqaf. Acara ini diakhiri dengan diskusi dan simpulan kegiatan oleh moderator. Harapannya dengan kegiatan ini adalah terciptanya kerjasama –kerjasama asosiasi program studi akuntansi dalam perguruan tinggi muhammadiyah dengan menggelar kegiatan-kegiatan yang serupa.(*/npl)
Sumber:
https://feb.umm.ac.id/id/berita/feb-webinar-asosiasi-program-studi-akuntansi-perguruan-tinggi-muhammadiyah.html
